Mengenai Saya

Kenalilah dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu

Selasa, 14 Februari 2012

Mendeteksi Obyek di Dalam Air



    

Ambruknya jembatan gantung Kartanegara di Sungai Mahaham, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mendorong banyak pihak turun ke lapangan untuk mencari penyebab musibah itu. Berbagai alat survei pun dikerahkan untuk meneliti kondisi jembatan pascabencana itu, termasuk menyelidiki bagian konstruksi yang tenggelam di sungai tersebut.


Jembatan gantung atau suspensi dalam skala besar di Indonesia ada di Sungai Mamberamo di Provinsi Papua yang bentang tengahnya 235 meter, Sungai Mahakam (270 meter), dan Sungai Barito di Kalimantan Selatan (230 meter).


Ketika terjadi kegagalan teknologi, berbagai upaya penyelidikan dan evakuasi korban pun dilakukan. Penanganan investigasi kasus ambruknya jembatan dalam kaitan dengan audit teknologi, diakui Kepala Pusat Audit Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, merupakan hal yang pertama ditangani.



Audit investigasi pada jembatan yang pernah dilakukan Pusat Audit Teknologi BPPT adalah penyelidikan penyebab terbakarnya Jembatan Ampera di Palembang, Sumatera Selatan, tahun 2010.


Kasus Jembatan Kartanegara jelas jauh lebih rumit karena menyangkut kerusakan sebagian besar struktur. Karena itu, penelitian akan dilakukan pada semua komponen pada jembatan tersebut, termasuk struktur yang tenggelam di dasar sungai.


Lepasnya badan jalan yang tergantung kawat kabel pada bagian tengah jembatan mengakibatkan tidak hanya menenggelamkan struktur itu, tetapi juga kendaraan dan pengendara yang saat kejadian melintas di atasnya.


Belum dapat diketahui jumlah pasti kendaraan yang tenggelam dan korban jiwa di dasar sungai. Tim penyelam dari Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Polri yang dikerahkan ke lokasi, Selasa (29/11), belum dapat mengetahui keberadaan korban yang terpendam di dasar sungai.


Visualisasi di dasar sungai yang berkedalaman 30-40 meter terhambat oleh tingginya tingkat kekeruhan air sungai yang berwarna kecoklatan itu. Saat ini, arus sungai itu juga tergolong deras yang mencapai sekitar 1 meter per detik.


Selain itu, tim dari Balai Teknologi Survei Kelautan (Teksurla) BPPT juga akan melakukan survei dasar sungai di bawah jembatan yang kolaps tersebut.


Tujuan dari survei kelautan itu untuk mengetahui kondisi struktur jembatan di bawah sungai dan menemukan lokasi kendaraan yang tenggelam hingga kemungkinan mengevakuasi kendaraan tersebut. Selanjutnya menentukan jalur yang aman dilalui pascaambruknya jembatan itu.


Survei akan dilakukan di bagian selatan dan utara jembatan. Saat ini belum memungkinkan survei dasar sungai tepat di bawah jembatan karena ada bagian lain yang berpotensi runtuh.


Alat survei


Survei menggunakan side scan sonar dan multibeam reson hydrobat yang akan dipasang pada perahu. ”Selain itu dipasang pula alat pendukung, yaitu GPS (global positioning system ), untuk membantu navigasi dan penentu koordinat,” kata Wahyu Pandoe dari Balai Teksurla BPPT, sebagai anggota tim investigasi itu.


Wujud side scan sonar ini seperti torpedo yang panjangnya sekitar 1,5 meter dan berdiameter 20 sentimeter. Di bagian bawah tabung pemindai itu terpasang sumber sonar.


Sonar ini bekerja seperti alat fotokopi, yang bergerak memindai obyek. Untuk itu, tabung sonar ini akan ditarik oleh kapal dalam pengoperasiannya. Kecepatan gerak kapal hingga 3 knot.


Side scan sonar memiliki frekuensi rendah (200-245 kilohertz) dan frekuensi tinggi (500-525 kilohertz). Alat ini dapat dioperasikan untuk mendeteksi hingga kedalaman 2.000 meter. Untuk frekuensi rendah bisa mendeteksi benda ukuran minimal 2,5 meter dengan wilayah pantauan 200 meter persegi. Adapun untuk frekuensi tinggi bisa memantau benda ukuran 0,5 meter dengan wilayah pantauan 100 meter.


Selain itu, di lunas kapal dipasang multibeam reson hydrobat berfrekuensi 160 khz. Maksimum liputannya 200 meter. Disebut multibeam karena alat ini memiliki 112 sumber gelombang suara sehingga obyek yang terdeteksi dapat lebih detail.


Untuk menangkap obyek yang terdeteksi, selain alat pemancar berkas gelombang, alat itu juga terpasang sistem penerima gelombang pantul dari obyek yang ”ditembak”.


Hasilnya data obyek yang tertangkap lalu ditampilkan pada layar monitor yang terpasang di kapal. Data yang ditampilkan berupa citra tiga dimensi.


Namun, Wahyu memperkirakan citra yang diterima akan kurang jelas karena tingginya tingkat kekeruhan air sungai itu.


”Alat ini dioperasikan pada malam hari setelah aktivitas pencarian manual oleh pasukan katak selesai,” kata Wahyu.


Teknik survei kelautan itu selama ini digunakan untuk kegiatan survei batimetri, geologi, dan mencari obyek kapal tenggelam serta survei pemantauan pipa atau kabel bawah laut. (Kompas, 30 November 2011/ humasristek)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar